Siaran Pers: Kajian atas Kuasa Taipan Kelapa Sawit di Indonesia

Jakarta, 30 Januari 2019—Meski performa bisnis kuasa taipan atas korporasi sawit terlibat perusakan dan pencemaran sumberdaya alam serta merampas hutan, tanah dan lahan masyarakat, lembaga jasa keuangan nasional dan internasional berkelanjutan menggelontorkan dana jumbo pada para taipan.

“Saat transparansi masih menjadi masalah, mengapa bank/investor tetap memberi dukungan pembiayaan bagi perusahaan yang transparansinya kurang memadai ini,” kata Rahmawati Retno Winarni, Direktur Eksekutif TuK INDONESIA. “Bank telah membantu 25 grup perusahaan kelapa sawit yang dikendalikan oleh para taipan ini untuk menarik modal dalam jumlah besar selama delapan tahun terakhir, melalui penyediaan pinjaman sendiri dan dengan menukarkan saham dan obligasi yang dijual kepada investor oleh perusahaan.”

 

Untuk periode 2010 hingga 2018, studi ini mengidentifikasi uang dengan nilai total USD 19,7 miliar yang disediakan oleh bank untuk kegiatan produksi minyak sawit dari 25 grup bisnis yang dikendalikan taipan yang dipelajari dalam laporan ini. Pada periode yang sama, bank investasi telah menerbitkan saham dan obligasi untuk kegiatan produksi minyak sawit dari 25 grup bisnis ini dengan nilai total USD 8,0 miliar. Ini artinya bank telah membantu perusahaan untuk menarik dana sejumlah tersebut dari para investor.

Pemodal Asia mendominasi pembiayaan 25 kelompok ini. Bank-bank terpenting yang menyediakan pinjaman bank bagi grup bisnis para taipan yang dapat kami identifikasi adalah Oversea-Chinese Banking Corporation (Singapura), CIMB Group (Malaysia), Malayan Banking (Malaysia), Bank Negara Indonesia (Indonesia) dan Bank Mandiri (Indonesia). Bank-bank Eropa yang paling penting adalah Credit Suisse (Swiss), Rabobank (Belanda) dan BNP Paribas (Prancis). Bank Amerika yang paling penting adalah Citigroup.

Senarai di atas termaktub dalam Riset Jilid II 2018: Kuasa Taipan Kelapa Sawit di Indonesia yang diterbitkan oleh TuK INDONESIA hari ini di Jakarta. Riset ini perkembangan performa para taipan atas penguasaan lahan sawit dari riset jili I yang terbit pertama kali pada 2014.

Laporan riset jilid II menunjukkan perkembangan penguasaan lahan sawit yang dikendalikan oleh 25 taipan. Sawit Indonesia (yang sudah ditanami) menurut laporan ini luasnya 12,3 juta ha. Dari luasan tersebut 3,4 jutanya adalah milik 25 grup bisnis yang dikuasai taipan. Total luasan lahan milik 25 grup bisnis para taipan adalah 5,8 juta hektar dan 3,4 juta hektar tertanam dan 2,4 juta hektar yang belum tertanam.

Lima  teratas grup dengan kemampuan menanam tertinggi adalah:  Royal Golden Eagle, Batu Kawan, Harita, Darmex dan pada tempat yang kelima diduduki oleh tiga (3) grup, yaitu:  SMART, Gozco dan Salim.

Grup dengan kemampuan menanam terendah adalah: IOI, Austindo, Kencana, Boon Siew, dan Tiga Pilar Sejahtera. Grup dengan realisasi plasma tertinggi: Sampoerna, RGE, Harita, Salim dan DSN, Jardine dan Sungai Budi.

Area yang ditanami kelapa sawit di Indonesia meningkat sebesar 82% dalam sepuluh tahun terakhir, dari 6,8 juta hektar pada 2007 menjadi 12,3 juta hektar pada 2017. Ini setara dengan peningkatan 550.000 hektar per tahun. “Ini berarti bahwa area hampir seluas Pulau Bali terus menerus dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit setiap tahunnya,” kata Rahmawati.

Selama empat tahun terakhir, dari 2013 hingga 2017, pertumbuhan sektor ini hanya sedikit lebih rendah: area yang ditanami kelapa sawit masih mengalami peningkatan sebesar 460.000 hektar per tahun. Wilayah kelapa sawit Indonesia didistribusikan di berbagai provinsi di Indonesia dan di mana pertumbuhan terbesar terjadi dalam empat tahun terakhir, yaitu: Kalimantan Barat, diikuti oleh Kalimantan Timur dan Riau.

This post is also available in: English