Forests and Finance Newsletter – Edisi Keempat

Rekan-rekan yang terhormat, 

Selamat berjumpa kembali dengan buletin Forests and Finance. Kuartal ini adalah waktu yang sangat sibuk buat kami, dan siapapun yang bekerja dalam bidang keuangan berkelanjutan di Indonesia. Tentu perhatian kita semua diarahkan kepada POJK tentang Pelaksanaan Keuangan Berkelanjutan, yang akhirnya diluncurkan pada 20 Juli 2017. Warisan para komisioner OJK periode 2012-2017 itu pertama-tama perlu kita sambut gembira, lalu selanjutnya kita masih perlu mencari ruang untuk penyempurnaannya. Setelah POJK keluar, TuK INDONESIA yang kebetulan menerima kehadiran dua pakar keuangan berkelanjutan global itu, yaitu Myriam Vander Stichele dari SOMO dan Jan Willem van Gelder dari Profundo, mengatur dua acara agar mereka bisa berbicara kepada publik di Indonesia. Laporannya bisa dibaca di buletin ini.

Untuk mendukung POJK tersebut, itu pula TuK INDONESIA menerbitkan dalam versi Bahasa edisi Indonesia dari sebuah buklet sangat terkenal yang ditulis oleh Jan Willem van Gelder. Buklet yang aslinya berjudul “The Do’s and Don’ts of Sustainable Banking”, kini dalam versi Bahasa Indonesia menjadi “Perbankan Berkelanjutan: Apa yang Perlu Dilakukan dan yang Sebaiknya Dihindari”. Bank-bank yang hendak menapaki jalan menuju perbankan berkelanjutan, serta pemangku kepentingannya, diharapkan bisa mendapatkan manfaat dari buklet ini. Selain itu, ada juga berita soal terbitnya dokumen dari Environmental Paper Network, “In the Red: An Assessment of Bank Policies for Financing Pulp and Paper”.

Dari Eropa kita mendapatkan berita soal High-Level Expert Group (HLEG) on Sustainable Finance yang sedang mencari masukan dari para pemangku kepentingan. Artikelnya ditulis langsung oleh Myriam Vander Stichele yang adalah juga anggota HLEG tersebut. Sementara, dari Kanada kita mendapatkan berita bahwa HLEG yang sama juga dibentuk. Kedua berita itu menggambarkan bahwa, di seluruh penjuru dunia, isu tentang keuangan berkelanjutan ini terus menguat.

Newsletter edisi keempat Sept 2017

This post is also available in: Indonesian