Mendorong Skema Pembiayaan yang Berkeadilan bagi Petani Kelapa Sawit

Keuangan Berkelanjutan di Indonesia: Harapan dan Tantangannya
June 14, 2017
Siaran Pers: Pelibatan penyandang dana, dalam konflik PTPN II dan masyarakat di kabupaten Jayapura (Keerom)
June 17, 2017
Show all

Mendorong Skema Pembiayaan yang Berkeadilan bagi Petani Kelapa Sawit

Kajian “Mendorong Skema Pembiayaan yang Berkeadilan bagi Petani Kelapa Sawit” ini secara umum bertujuan untuk memperoleh model alternatif untuk petani kelapa sawit, akses pembiayaan dan rekomendasi-rekomendasi teknis dalam skema pembiayaan alternatif tersebut. Secara khusus, kajian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu: a) mengetahui kondisi tata kelola perkebunan rakyat, faktor produksi, rantai distribusi, peremajaan kebun, transformasi pertanian, informasi dan akses perkebunan rakyat terhadap pembiayaan perbankan, kondisi sosial dan ekonomi rumah tangga petani kelapa sawit terkini; b) menganalisa skema pembiayaan oleh perbankan terhadap petani kelapa sawit; c) mengidentifikasi skema pembiayaan oleh perbankan terhadap petani kelapa sawit.

Studi dilakukan sejak November 2015-April 2016 di Kabupaten Siak dan Kampar, Provinsi Riau, dengan fokus perkebunan rakyat yang dikelola dengan skema mandiri dan kemitraan. Dua Kabupaten tersebut terpilih, karena: 1) Kabupaten dengan luas perkebunan rakyat paling besar, 2) terdapat 4 jenis pengelolaan perkebunan yaitu mandiri, plasma, koperasi (KKPA) dan bantuan pemda.

Hasil kajian yang dilakukan oleh TuK Indonesia menunjukkan petani kelapa sawit menghadapi kendala dalam peningkatan produktivitas TBS, yang disebabkan: Pertama, petani kelapa sawit memiliki keterbatasan terhadap sarana produksi seperti bibit, pestisida dan pupuk. Kedua, Harga TBS yang dijual oleh petani dihargai rendah. Ketiga, Tidak adanya pendampingan sehingga pengetahuan petani kelapa sawit tentang pengelolaan kebun dan peremajaan kebun sangat minim. Keempat, petani tidak memiliki modal untuk melakukan perawatan. Petani kelapa sawit juga menghadapi keuslitan untuk mengakses pembiayaan di perbankan, yaitu: proses administrasi yang rumit, masalah agunan, dan jarak ke bank yang cukup jauh. Petani kelapa sawit akhirnya memilik untuk mengakses pembiayaan di rentenir, pengumpul kecil, dan keluarga terdekat. Petani memiliki harapan agar bank memberikan fasilitas pinjaman sebagai berikut: pinjaman bunga yang rendah, pinjaman tanpa agunan, pinjaman angsuran yang rendah, persyaratan pinjaman yang mudah, cara pembayaran yang mudah.

Petani kelapa sawit tetap menghadapi kesulitan untuk mengakses program-program yang didorong oleh pemerintah untuk meningkatkan akses pembiayaan bank terhadap perkebunan rakyat, seperti: Kredit Revitalisasi Perkebunan, Kredit Ketahanan Pangan, Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

 

Selengkapnya https://drive.google.com/open?id=0B-NrsmIaftChVHd4LWhGYk5Ya3c