Melihat yang tak terlihat: Narasi untuk Pembangunan Ekonomi Pedesaan

Laporan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kebijakan pertumbuhan pembangunan sejak masa Orde Baru hingga saat ini membuahkan ketimpangan kesejahteraan yang semakin lebar antara kelompok kaya dan miskin. Meskipun ada kecenderungan turunnya Index Gini pendapatan, namun Credit Suisse menunjukkan ketimpangan yang sangat parah dalam soal aset harta (wealth). Pada tahun 2016, 1% persen penduduk menguasai 50% dari total kekayaan negara, yang membuat Indonesia berada di urutan keempat negara paling timpang di dunia di bawah Rusia, Tiongkok, dan Thailand (Withnall, 2016). Dibandingkan dengan angka pendapatan, Index Gini aset harta (Gini Wealth) lebih mempengaruhi struktur ketimpangan kesejahteraan dalam suatu negara karena kepemilikan aset seseorang berkaitan erat dengan pendapatan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga keturunannya kelak (Stilwell, 2016). Bila tidak segera diatasi, ketimpangan yang semakin melebar dapat memicu terjadinya ketidakstabilan politik yang merugikan pembangunan ekonomi dan mengancam keutuhan negara. Untuk mengatasi persoalan ini kita perlu memahami masalah struktural yang mempengaruhi ketimpangan.

Buku_Melihat yang Tak Terlihat_110817